Buku Kongres Kebudayaan Desa : Arus Balik Membangun Peradaban Desa Masa Depan

Melani Budianta – Guru Besar Fak. Ilmu Budaya Universitas Indonesia

Belajar Dari Pandemi

Arus kapitalisme global yang dibangun atas suplai transnasional secara mendadak melambat karena terhentinya lalu lintas antar negara, percepatan pembangunan berteknologi canggih pun terhenti, karena penyebaran wabah lebih cepat dari kemampuan kendali manusia melalui sains dan pengobatan modern. Apa yang dihadapi dunia sejak awal 2020 menunjukkan bahwa peradaban supramodern dengan eksploitasi terhadap alam secara masif tidak mungkin berkelanjutan. Ketika laju peradaban yang tak sehat itu tidak dapat ditahan, maka gelombang balik dari alam dan wabah tanpa kompromi menghadang. Hadirnya vaksin diharapkan membawa kepada kehidupan “normal baru” yang tetap saja harus taat pada protokol kesehatan yang artinya kembali lagi pada peradaban yang sudah diketahui tidak sehat, yang menurut para pakar hanya menunda kepunahan bumi.

Dalam masa tunda ini kita dapat beberapa pembelajaran yang luar biasa, Pertama, kita melihat bahwa kota tidak dapat bertahan tanpa desa sebagai suplai pangan dan suplai tenaga. Kedua, dalam diskusi kebijakan seringkali aspek ekonomi dan aspek kesehatan dipertentangkan mana yang menjadi prioritas lebih penting (mati karena wabah atau mati karena kelaparan). Yang terjadi adalah banyak yang mati karena kerentanan sosial budaya karena kegagalan komunikasi budaya dengan masyarakat yang mempunyai keragaman latar belakang dan aliran. Akses pendidikan yang kompleks mengakibatkan pelanggaran rambu-rambu kesehatan. Masyarakat juga mengalami gegar budaya untuk mengubah kebiasaan dan tradisi yang telah mengakar dalam waktu singkat demi istilah yang disebut “ social distancing”. Kemampuan literasi kritis yang rendah menyebabkan individu yang mengambang ini mudah digerakkan oleh hoaks dan pengaruh tokoh karismatik untuk mengabaikan berbagai rambu kesehatan. Sehingga ketangguhan budaya dan tatanan sosial secara kolektif menjadi poin yang tak kalah penting dari aspek kesehatan dan ekonomi semata. Ketiga, semakin terjaga lingkungan alam serta keragamanhayatinya semakin besar potensi wilayah itu untuk menghidupi warganya. Keempat, komunitas kecil yang mandiri suplai pangan dan mampu membangun sistem untuk menata relasi sosial, merawat warga yang kekurangan, menyediakan sarana kesehatan dengan berbagai inovasi lokal yang menghibur dan mampu berkomunikasi dengan baik mempunyai ketangguhan yang lebih besar daripada komunitas yang tergerus oleh gaya hidup individual, transaksional dan konsumtif.

Pembangunan Desa yang Bermasalah

Kesimpulan dari pelajaran yang kita peroleh dari pandemi di atas adalah urgensi bagi manusia untuk membuat peradaban baru, yang jelas bukan lagi urban sentris dengan pola pembangunanisme, karena arah arus balik ini jelas membawa kita ke desa. Bukan desa masa lalu maupun desa yang berperspektif urban yang menhasilkan devisa karena banyak buruh atau pekerja TKI sehingga kehilangan tenaga kerja produktifnya. Desa seperti itu berdampak pada hilangnya mimpi anak-anak untuk menjadi petani dan hidup di desa. Strategi baru yang banyak dikembangkan adalah mengubah desa menjadi “desa wisata” yang berupaya menarik turis lokal dan mancanegara, sehingga sebagian lahan produktif dialihkan untuk membuat tempat kuliner, peristirahatan yang dilengkapi dengan acara seni budaya sebagai hiburan. Petani berubah profesi menjadi pelayan jasa yang jelas ke depan sangat merugikan, karena banyak keanekaraganhayati, khususnya pangan lokal yang kemudian tidak terolah dan ini adalah sebuah kehilangan yang tak tergantikan.

Peradaban Desa Masa Depan

Berkaca pada pembangunan desa yang cenderung memiskinkan warganya, kita tidak punya pilihan untuk membangun arah peradaban baru yang berbasis pada tatanan yang ramah pada alam dan lingkungan. Peradaban baru berbasis pada komunitas yang mempunyai ketahanan pangan dan ketangguhan budaya lokal yang dapat dikembangkan menjadi pengetahuan, wawasan dan nilai untuk menjaga keanekaragamanhayati, solidaritas dan keguyuban sosial yang mampu menjaga, merawat relasi antar manusia dan memanusiakan manusia.

Disisi lain, desa dan kota tidak bisa didikotomikan lagi karena sudah menjadi entitas yang saling “berkelindan dan tak terpisahkan.” Saat ini peluang yang bisa dimanfaatkan oleh desa adalah teknologi informasi dan jejaring digital. Dengan penguasaan akses ini, desa bisa langsung memasarkan berbagai hasil produknya (pertanian, produk olahan, perkebunan, peternakan, wisata, dll) yang telah dikelola secara kolektif oleh masyarakat dan berkelanjutan sehingga dapat menjadi peluang alternatif. Dengan kata lain, yang sangat menentukan untuk membangun peradaban desa di masa depan adalah tatanan sosial atau pengorganisasian masyarakat desa secara kolektif yang melihat kesejahteraan tiap warga desa menjadi kepentingan bersama. Contoh tatanan sosial yang sudah menjadi genius lokal desa-desa di Indonesia diantaranya adalah organisasi pengairan subak dan banjar di Bali sebagai pengatur tatanan sosial desa sehari hari.

Pengaturan tatanan sosial desa telah mempunyai perangkat hukum yakni Undang Undang Desa No 6/2014 yang mengakui adanya desa dan komunitas adat. Meski seringkali terjadi dualisme antara tatanan formal dan tradisional yang saling menunjang atau bermasalah, namun telah berpengaruh besar pada asas musyawarah untuk kepentingan bersama, transparansi pengambilan keputusan dan demokrasi partisipatif. Peradaban desa di masa depan bertumpu pada pengorganisasian sosial yang sehat dan bergairah di desa. Nilai keguyuban sosial dan kolektivitas di desa, terkait dengan adat istiadat dan tradisi lokal terutama di desa adat.

Membangun desa yang nyaman bagi semua berarti membuat desa menjadi daya tarik dan peluang bagi generasi mudanya untuk mengembangkan kapasitas, bakat dan potensi terbaiknya. Untuk itu desa perlu menjadi peluang ekonomi yang memberdayakan dan memberikan harga diri bagi warganya. Pada saat pandemi, terjadi migrasi balik ke desa. Bagaimana membalikkan “beban” dari kota ini menjadi peluang mengembangkan ekonomi desa? Disisi lain masih banyak stereotipe bahwa petani merupakan profesi yang kurang diminati, maka tantangan peradaban desa adalah membongkar dan membalik stereotipe tersebut. Salah satu caranya adalah mengembangkan BUMDes yang dimotori oleh anak muda dengan kreatif dan inovasinya sehingga bisa mengelola sumber daya alam yang ada di desa dan berdampak pada kesejahteraan warga. Selain itu, ada beberapa desa yang juga mengembalikan konsep lumbung untuk menjadi sumber kehidupan bersama. Lumbung desa merupakan upaya kolektif “menabung” sumber daya untuk pengamanan kebutuhan warga, khususnya dikala paceklik. Saat ini lumbung desa bisa diartikan secara metaforis, bukan harfiah. Konsep lumbung ini terkait dengan kemandirian pangan desa. Prinsip ini sangat penting ditekankan agar desa tidak lagi menjadi tempat menanam komoditas ekspor dan melupakan kebun dan keanekaragamanhayati yang penting untuk kesehatan dan pertumbuhan generasi mudanya. Beberapa desa dengan difasilitasi oleh Kemendesa mengembangkan istilah “Lumbung Budaya Desa” dengan tujuan untuk mendata berbagai sumber budaya yang dimiliki oleh desa, termasuk warisan seni dan tradisi, objek-objek sejarah, ingatan kolektif sejarah desa dari para tetua desa, kuliner lokal, bahasa, permainan anak, dll. Lumbung budaya ini diharapkan menjadi lumbung pengetahuan yang menghidupi warganya dan dapat dibagikan bagi orang dari luar desa untuk belajar tentang desa tersebut.

Jika desa telah menjadi lumbung pengetahuan yang menghidupkan berbagai warisan budaya lokal yang relevan dan sesuai dengan perubahan zaman, maka anak-anak tidak menjadi generasi yang tercerabut dari akar dan lingkungannya. Anak-anak dan kaum muda akan mencintai desanya. Sehingga desa dapat membuka sekolah-sekolah alternatif dengan membuka seluruh desa menjadi ruang belajar bagi anak-anak dan di saat yang sama berselancar dengan kemampuan literasi digital yang sesuai dengan jiwa milenial.

 

Kehadiran Negara diwilayah Pedalaman

CTSS IPB University Hadirkan Dirjen Budaya Bahas Sains Keberlanjutan dari Pengetahuan Lokal

Oleh: CTSS

Salah satu misi yang diusung CTSS adalah mencari solusi dalam menyelesaikan permasalahan yang kompleks (wicked problem) dengan menggunakan pendekatan transdisiplin, dimana kearifan lokal/tradisional menjadi sumber pengetahuan yang penting.

Center for Transdisciplinary and Sustainabiliy Sciences (CTSS) adalah pusat studi yang mengembangkan ilmu-ilmu terbaru tentang keberlanjutan (sustainability). Salah satu misi yang diusung CTSS adalah mencari solusi dalam menyelesaikan permasalahan yang kompleks (wicked problem) dengan menggunakan pendekatan transdisiplin, dimana kearifan lokal/tradisional menjadi sumber pengetahuan yang penting.

Upaya tersebut diwujudkan dengan diselenggarakannya Essay Contest ke-2 di tahun 2021. Melalui kegiatan ini, diharapkan lahirnya “new insights” yang dapat menjadi inspirasi dalam melahirkan Sains Keberlanjutan (Sustainability Sciences).

Penyelenggaraan essay contest ini berlangsung dari 4 Januari sampai 16 April 2021. Jumlah peserta yang telah mengirimkan artikel adalah sebanyak 75 peserta. Kegiatan 2nd Essay Contest ini diikuti secara perorangan ataupun kelompok. Kegiatan ini dibagi ke dalam dua kategori yaitu kategori mahasiswa sarjana (S1) dan pascasarjana (S2/S3) yang berasal dari seluruh Indonesia.

Prof Damayanti Buchori, Kepala CTSS IPB University mengatakan, kegiatan essay contest ini bertujuan menggali informasi pengetahuan lokal tentang sumber daya alam, terutama yang memiliki nilai-nilai keberlanjutan.

“Kami berusaha menggali, menemukan, mengawinkan, pengetahuan lokal dengan pengetahuan modern untuk menghasilkan Sains Keberlanjutan (Sustainability Science),” ujar Prof Damayanti dalam kuliah umum dan pengumuman pemenang 2nd Essay Contest, 16/4.

Essay contest ini juga, katanya, bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan generasi muda tentang pengetahuan lokal mengenai sumber daya alam dari berbagai daerah di Indonesia.

Direktur Jenderal Budaya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Hilmar Farid turut mengapresiasi penyelenggaraan essay contest ini. Melalui kuliahnya yang berjudul Sains Teknologi dan Masyarakat: Mempraktikkan Teori dan Mentorikan Praktik, Hilmar menyebutkan bahwa proses menteorikan praktik adalah proses pembentukan pengetahuan masyarakat berbasis tradisi adat.

“Titik tolak saya kenapa pembangunan bisa tidak berkelanjutan itu berasal dari sebuah problem yang saya kira laten, yaitu problem eksternalitas. Ini merupakan isu yang sering muncul dan biasa disebut invisible costs dari pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

Ia mengatakan, ketika pembangunan perekonomian meningkat tanpa memperhatikan sosial dan lingkungan maka akan terjadi peningkatan kerusakan lingkungan maupun masyarakat itu sendiri.

“Ketika pembangunan itu direduksi menjadi urusan pertumbuhan ekonomi, maka akibatnya sudah bisa kita lihat. Akibatnya tidak hanya kerusakan lingkungan tetapi dampaknya memang lebih dari sekedar kerusakan lingkungan, sehingga ketika ekosistem berubah maka kehidupan masyarakat dalam ekosistem tersebut juga berubah secara mendasar,” tambah Hilmar.

Seiring dengan hal tersebut, lanjut Hilmar, pengetahuan dan aset knowledge yang diwariskan dari generasi ke generasi turut melemah. Ia mencontohkan, seperti tradisi Sasi secara praktis saat ini tinggal kenangan. Pasalnya tradisi tersebut sudah tidak sesuai dengan introduksi teknologi modern di kawasan yang menerapkan Sasi.

Oleh karena itu, Hilmar menyebutkan sains keberlanjutan perlu dibangun dengan kesadaran bahwa seluruh masalah sosial, ekonomi dan ekologi hari ini merupakan ekspresi yang berbeda dari gejala tunggal yang sama. Dengan demikian, penanganan atas masalah sosial, ekonomi dan ekologi hanya mungkin dijalankan secara terpadu.

“Caranya adalah dengan berangkat dari konteks, dari sejarah praktik sosial. Pembangunan hanya akan berkelanjutan kalau itu muncul secara endogen. Kuncinya ada pada revitalisasi kekayaan pengetahuan tradisional,” tambahnya.

Upaya revitalisasi ini dapat dilakukan dengan memberdayakan wawasan pengolahan alam berbasis tradisi yang terbukti berkelanjutan, mengintegrasikan tradisi gotong royong ke dalam bagian integral dari aktivitas perekonomian dan mendorong interaksi antarbudaya yang berbeda sebagai penghela perekonomian nasional.

Kegiatan 2nd Essay Contest ini turut didukung oleh The Samdhana Institute. Direktur Eksekutif The Samdhana Institute, Cristi Marie C Nozawa mengatakan pengetahuan lokal sangat penting untuk dieksplorasi. Dirinya menyebut, Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat melimpah. Lebih lanjut ia menjelaskan, pengetahuan lokal merupakan pengetahuan kolektif yang dihasilkan oleh suatu komunitas melalui waktu.

“Pengetahuan lokal ini juga sudah termasuk multidisiplin karena di dalamnya ada ilmu biologi, botani, hukum hingga teknik. Contohnya adalah tradisi Subak yang ada di Bali,” ujar Cristi.

Pengetahuan lokal ini, kata Cristi, dapat membantu menemukan konsep keberlanjutan. Tidak hanya itu, pengetahuan lokal ini terbentuk dari kondisi lokal setempat dan telah mencerminkan keanekaragaman alam dan budaya.

“Dengan diselenggarakan kompetisi ini, kami berharap bahwa peserta dapat belajar tentang masyarakat adat, kesehatan dan sistem pangan yang berkelanjutan,” tutup Cristi.

Sumber: https://ctss.ipb.ac.id/2021/04/16/ctss-ipb-university-hadirkan-dirjen-budaya-bahas-sains-keberlanjutan-dari-pengetahuan-lokal/

TABULA RASA by Aday KoB

Ngitau Urang Jadi Pernikahan Adat Suku Dayak Kantu

Oleh: Yayasan Merangat

Cerita Pengalaman Magang

Oleh: Rian Panca Kesuma

“Skripsi dulu aja!”
“Si A diterima di sini lo!”
“Kamu magang dimana?”
“Pusing ya magang Corona gini.”
“Udah pada ambil magang?”
“Cape kuliah mau nikah aja!”
“Magang dimana ya? Tempat magang pada tutup, Corona!”
“Udah daftar ke Kemenlu, MNC, instansi pemerintahan, atau ke NGO mana?”

Begitulah kira-kira obrolan teman-teman sekitar di awal masa pandemi. Cukup bingung dan terpengaruh awalnya, namun jika dipikir kembali ‘menganggur dan pasrah tidak akan menjawab permasalahan apapun’ bermodal keyakinan bahwa ‘tuhan selalu menyertai orang-orang nekat’ saya mendaftarkan diri ke beberapa NGO. Usaha dan doa akhirnya terjawab, saat itu saya mendapatkan email dari Bapak Budi Susilo yang tergabung di Penabulu Foundation, setelah mengisi beberapa persyaratan “alhamdulillah” saya diterima. Sejak saat itu ketika obrolan serupa terulang saya bisa menjawab dengan bangga “Saya magang di Penabulu Foundation”.

Nama saya Rian, seorang mahasiswa HI semester tujuh di Universitas AMIKOM Yogyakarta. Melamar magang di bulan Agustus dan mulai magang sejak 1 September 2020 di Penabulu Foundation. Kenapa harus Penabulu? mudah saja, saya merasa bahwa NGO adalah lembaga yang paling pertama “bersentuhan tangan” dengan masyarakat dan Penabulu adalah NGO yang paling banyak berkolaborasi dengan lembaga lain. Syukurlah Penabulu masih membuka kesempatan magang di masa pandemi dan beruntung sekali saya mendapatkan kesempatan bergabung.

Setelah resmi bergabung, saya diposisikan sebagai salah satu anggota tim manajemen ADIL ‘Aliansi Desa yang Inklusif dan Lestari’ YK. Di tim ini saya bekerja bersama tiga orang teman sesama magang dan seorang mentor yang sangat baik yaitu Bu Ani. Di tim ini, saya benar-benar sadar, ternyata masih banyak karakter orang di luar sana yang harus saya kenal dan pahami. Dari kampus yang berbeda-beda, latar belakang berbeda, lingkungan kerja yang berbeda dengan kampus, mendorong saya untuk terus berkembang dan beradaptasi.

Selama magang di sini, sudah banyak sekali moment berharga yang saya dapat. Saya belajar bagaimana berkomitmen, bekerjasama dalam tim, menyusun konten untuk website, rapat online karena sedang tidak bisa bertatap muka, ikut serta dalam berbagai seminar, ikut kelas dari lembaga, ikut acara di hotel mewah, ditraktir makan enak, menertawakan bercandaan receh mereka yang selalu menghibur saya, dan masih banyak lagi.

Sebagai anggota tim ADIL, saya harus mampu melihat satu kasus dalam beragam sudut pandang; ini adalah satu dari sekian banyak hal yang saya pelajari ketika bergabung. Dalam pertemuan pertama ADIL misalnya, setiap lembaga yang tergabung memberikan point of view yang berbeda ketika membahas Isu Strategis Desa, hal itulah yang menjadi motivasi saya.

Perlu diketahui kalau ADIL memang terdiri dari beberapa lembaga di dalamnya; ketika saya bergabung, ADIL telah memperoleh 12 lembaga anggota dan pasti akan terus bertambah. Lembaga yang tergabung dalam ADIL kukuh dalam ‘keterikatan yang lepas’ artinya, kerjasama ADIL tidak sama sekali membatasi gerak kerja tiap-tiap lembaga anggota; namun tetap terikat secara kolektif pada visi bersama dalam jangka panjang, yaitu: pembangunan desa yang berkeadilan sosial di Indonesia. Latar belakang tiap lembaga anggota pun amat beragam, hal ini bernar-benar mencerminkan bagaimana kolaborasi berkerja.

Meskipun waktu magang bertepatan dengan masa pandemi Covid-19, hal tersebut sama sekali tidak menyurutkan semangat saya. Bersama ADIL, saya merasa telah berkembang menjadi pribadi yang berbeda. Kehidupan mahasiswa saya yang “tadinya” malas-malasan seketika berubah menjadi lebih produktif. Saya cukup sering mendapat pengarahan dan ikut serta dalam rapat yang membahas isu-isu strategis Desa. Dalam waktu empat bulan ini saya menulis beberapa laporan yang sebagian dapat dilihat di website resmi ADIL. Senang rasanya, setiap kali membuka Berita dan Cerita di website ADIL; meskipun tulisan saya perlu banyak dikoreksi Bu Ani “maaf buu.” Saya merasa amat senang karena “pusing” ketika menulis tidak terasa sia-sia.

Laporan-laporan yang saya tulis tidak hanya berasal dari hasil rapat dan diskusi rutin. Sebagian saya susun berdasarkan materi yang saya peroleh ketika menghadiri seminar ‘daring maupun luring’ serta kelas yang diselenggarakan Penabulu atau NGO lain yang berkolaborasi. Salah satu yang paling saya ingat adalah ketika menghadiri acara ICCO Cooperation dan Yayasan Penabulu dalam skema Civic Engagement Alliance Indonesia “Responsible Business in 4.0 Era” di Hotel Grand Senyum; sebagai satu-satunya mahasiswa magang. Saat itu, saya berusaha menyimak tiap-tiap laporan yang disampaikan semua lembaga yang terlibat. Saya bersemangat karena keterlibatan lembaga internasional di acara ini amat sangat relate dengan materi yang saya pelajari di kampus, kebetulan saya adalah mahasiswa Hubungan Internasional.

Selain menulis, saya juga kerap membuat poster yang berisi rangkuman dari laporan maupun hasil rapat yang dilakukan tim ADIL. Tujuannya, agar informasi dapat lebih tertuju karena dikemas menarik dan “semoga” memudahkan pembaca memperoleh informasi di dalamnya. “Saya harus membuatnya semenarik mungkin agar informasi ini dapat diterima semua orang.” Itu adalah kata kata yang terfikirkan ketika saya membuat poster. Setiap orang benar-benar harus mendapat informasi tersebut, karena tidak semua informasi tersedia di tempat lain. Sebut saja isu digitalisasi sistem di tingkat desa, aneka program industrialisasi masuk desa, peningkatan akses dan kontrol rakyat, terbangunnya gerakan rakyat ‘atas kedaulatan pangan’, advokasi kebijakan di berbagai level pemerintahan ‘desa, kabupaten, pusat’, desa sebagai objek pembangunan, carut marut tata kelola pemerintahan desa dari sisi regulasi, desa tidak lapar karena memiliki banyak sumberdaya tetapi desa butuh recognisi, tradisi berdesa semakin tergerus oleh budaya luar, eksploitasi dan kerusakan alam secara massal serta perubahan budaya bertani yang tidak berkelanjutan, dan masih banyak lagi isu yang belum saya sebutkan; sangat jarang menjadi isu “popolis” yang sering kita lihat di media mainstream. Saya amat beruntung memperoleh informasi tersebut, dan semoga semua orang juga bisa memperolehnya.

Saya berharap, semoga pandemi cepat berakhir, semua program kerja ADIL, Penabulu, maupun NGO lainnya tidak terhambat dan semoga visi ADIL “pembangunan desa yang berkeadilan sosial di Indonesia” dapat tercapai dengan baik.

Last but not least, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Penabulu Foundation dan terimakasi ADIL telah memberikan saya kesempatan bergabung, mengajarkan saya hal-hal baru, mempertemukan saya dengan momen yang menarik dan orang-orang baik. Semoga selama empat bulan ini, saya memberikan kesan yang baik untuk teman-teman anggota semua. Untuk siapapun yang membaca tulisan ini saya ucapkan maaf karena lumayan “kacau” dan terima kasih serta salam hangat dari saya, Rian Panca Kesuma.